“Hidup adalah sebuah pilihan”

Satu dari sekian banyak pelajaran yang saya dapat dalam perjalanan hebat 4 tahun terakhir ini. Memilih untuk menetap dan bertahan atau melangkah dan mengikhlaskan. Saya tak akan dengan memelas meminta atau dengan angkuh meninggalkan, karena bukan itu yang saya harapkan. Tapi saya selalu merasa seolah dihadapkan pada dua jurang, antara duka mencinta dan bahagia terdera. Saya berjalan diantara cacian dan pujian, saya selalu merasa berdiri diatas optimisme tapi bersiap jatuh dirudung pesimisme. Akal meminta pergi, namun perasaan selalu menahan. Keambiguan membuat saya harus memutuskan ini dengan mandiri.

“Hidup adalah belajar”

Dari segudang cerita yang pernah saya bagi denganmu, ada banyak lagi kisah yang kau lewatkan. Saya selalu ingin berbagi, entah apa alasannya tapi saya selalu merasa “kurang” jika kau tak mengetahui. Dan dari banyak hal yang tak kau ketahui, maka ketahuilah bahwa perjalanan ini memberi saya banyak pelajaran.

Terutama, tentang memahami arti kesabaran yang sesungguhnya. Bukan sekedar kesabaran yang menuntut saya hanya diam dan menanti, tapi kesabaran yang terealisasi kala hati mampu menerima, selepas usaha telah saya jalani. Juga tentang meredam kebencian, belajar memaafkan tanpa harus mengerti apa itu dendam. Membiarkan luka luka itu mengering sendiri, meski mungkin hanya pemilik hati paling tabah yang mampu sembuhkan bekasnya. Saya juga belajar tentang pentingnya sebuah pengorbanan tanpa harus memikirkan apa imbalannya, karena itulah hakikat perjuangan. Baik mengorbankan tenaga, waktu, harta, ataupun seseorang yang amat dicintai.

Kamu. Yang menjadi tokoh utama pria dalam kisah “Embun Senja”

Bahagia pernah memilihmu, meski hanya dalam sebuah kisah seorang gadis pemimpi tak tau diri yang mengharapkan pangeran disisi. Benar jika para kurcaci pun mentertawakan ini, tapi saya tak peduli. Saya selalu teringat ketika pertama kali kau seolah menawarkan lembaran kosong dan tak pernah melarang saya untuk menulis. Meski pada akhirnya kau seolah terhenti pada titianmu dan hanya menatap beku. Dan saya pun menemukan dimana letak permasalahannya.

Ya, saya lah masalahnya. Saya yang belum mampu berlapang mengakhiri tulisan tulisan tersebut.

“Tapi, apakah lelaki selalu seperti itu? Apakah tarik dan ulur adalah sebuah strategi?”

But at least, I’ll always choose to stay here. Jangan Tanya “mengapa” karena tak ada jawaban untuk hal itu. Hanya saja andai kau tau bagaimana hitamnya sepi dibalik punggungmu. Sayangnya kau takkan paham sebagaimana saya yang tak pernah mampu menjelaskan. Biarkan semua berjalan sesuai aturan semesta, karena kesabaran hanya akan membuat kita merencanakan sesuatu dengan tidak alamiah. Satu lagi yang saya dapat dari perjalanan ini, bahwa;

“Cinta adalah mengalami”

Ah, perbincangan tentang cinta memang selalu rumit

Ia tak masuk akal, menjadikan yang lemah menjadi kuat, merubah si cupu menjadi pentolan, mengajak yang tertutup agar lebih terbuka. Ia mampu menumbuhkan empati pada hati yang mati, melukis senyum, memberi semangat, menularkan energy positif, dan membangun mimpi. Tapi dia pun mampu membutakan. Menutupi kebenaran. Membuat seseorang putus asa, menangis sepanjang malam, sakit, depresi dan akhirnya mati. Semua kembali pada diri kita masing masing, bagaimana kita dapat mengolah kekuatan magis tersebut.

Kamu. Yang menjadi alasan bagi banyak hal

Perjalanan 4 tahun ini membawa saya bertemu dengan banyak hal baru. Saya selalu ingin mengetahui hal yang sebelumnya tak pernah menarik hati. Dan sejujurnya banyak yang alasannya itu ya karena kamu. Alasan mengapa ini dan itu ada. Alasan mengapa saya menyukai ini, membenci itu. Membeli ini, membuang itu. Mempertahankan ini, melenyapkan itu. Melakukan ini, mengikuti itu, mencari ini, mengabaikan itu. Luar biasa. Kau memang hebat, dan selalu hebat. Menjadikan malang sebagai kota paling berkesan sebagai mana kuningan yang selalu mampu menghadirkan kenangan menyeruak dalam pikiran dan perasaan. Saya amat bersyukur, semua ini benar benar mengajarkan dan menghadapkan saya pada banyak hal baru.

Banyak hal yang saya lewati terkadang melampaui garis yang membatasi dua dimensi, antara kenyataan dan pengharapan. Dari sekedar berpapasan saya menginginkan pertemuan, dari sekedar menyapa saya selalu ingin berbincang, dan yang seharusnya sementara saya malah mengharapkan keabadiaan. Saya seperti kebanyakan manusia pada umumnya yang selalu berharap dalam ruang bernama “cinta”.

Saya telah menyalahi banyak aturan main. Saya tak seharusnya membuka lantas menerima diawal, memendam perasaan, lantas memupuk harapan dan dengan angkuh membuat komitmen pada hati saya sendiri. Ah belakangan ini saya mengerti bahwa komitmen adalah alasan paling tepat untuk berkompensasi. Meski tak dapat dipungkiri, saya menginginkan keabadian kisah ini. Dan lagi lagi saya mendapat pelajaran bahwa;

“Ada saat dimana idealisme akan tergerus habis oleh realita”

Kamu. Thank’s for being you

Terima kasih telah menerima dan memaklumi manusia egois juga tak tau diri ini. Terima kasih karena bersedia untuk tak nyaman. Terima kasih pernah mengizinkan saya mengenalmu dengan baik. Terima kasih untuk waktu, tenaga, nasihat, pelajaran, dan kenangan. Terima kasih telah menjadi teman, guru, kakak, dan menjadi kamu. Terima kasih atas segalanya.

Maaf. Maaf untuk hari hari kemarin. Maaf karena sering menyakiti, menyalahkan, meminta, mengganggu dan membebani. Maaf sering membuatmu malu. Maaf tak bisa memaklumi dan sering menuntut. Maaf untuk kekacauan dan ketidaknyamanan selama ini. Maaf belum bisa menjadi saya yang baik. Maaf atas segalanya.

Bersamaan dengan tulisan ini saya tidak akan mengucapkan salam perpisahan, mengucapkan selamat tinggal ataupun memberi isyarat untuk pergi. Namun saya berharap tembok keegoisan saya yang selama ini menahanmu segera runtuh, segala keinginan melakukan hal yang sia sia bersamamu pun segera sirna, dan segala angan angan masa lalu saya tentang masa depan pun perlahan dapat mengerti akan realita

Saya rasa saya hanya perlu kembali ketempat dimana seharusnya saya bercermin dan berpijak. Bukan semata-mata untuk melepasmu, tapi terlebih dari itu, untuk kebahagiaan saya sendiri. Saya baru menyadari bahwa saya amat merasakan kebahagiaan ketika ada orang orang yang menjadikan saya sebagai kebahagiaan yang mereka miliki. Kemarin kemarin saya terlalu egois akan angan angan dan mencintai hingga saya melupakan orang orang disekitar saya. Saya harus terus berjalan dan menebar kebahagiaan bagi yang lain. Betapa dahsyatnya program bernama cinta. Ia tak pernah diciptakan untuk membelenggu, karena justru ia membebaskan. Ialah satu-satunya substansi yang mampu mentransidensi segala perbedaan. Termasuk perbedaan dimensi. Satu lagi yang saya pelajari, bahwa;

“Kita memang diciptakan untuk melengkapi hidup orang lain”

Kamu. And only you

Kehadiranmu meski selalu menyisakan ruang ambigu, akan selalu menjadi memori terhebat yang saya miliki. Terima kasih pernah mengizinkan saya mencintai, hingga diammu menyadarkan saya bahwa seharusnya saya lebih mencintai diri saya yang memiliki cinta sebesar ini. Dulu saya memulai semua ini dengan segala harapan kehidupan bersamamu, maka sekarang pun saya berharap agar hati mampu dengan lapang menerima bahwa sesungguhnya saya harus melepaskan. Karena baik itu keadaan maupun engkau, tak pernah ada yang meminta saya untuk bertahan.

Terlepas bagaimana nanti takdir membawa, dari hati yang terdalam saya masih ingin tetap mengagumi, mencintai dan menginginkan.

Kamu. And it always been you

Bersama dengan tulisan ini saya ucapkan selamat hari jadi. Selamat menempuh fase baru dalam kehidupan dunia. Selamat menyambut pengalaman dan pelajaran baru. Selamat karena telah melampaui kejadian selama 18 tahun kemarin, dan selamat karena masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri.

Semoga hari harimu senantiasa diberkahi. Semoga menjadi pribadi yang semakin baik. Semoga hati semakin lapang menerima, semakin kuat menghadapi, dan semakin tabah mengikhlaskan. Jagalah dirimu dan keluargamu dengan baik. Semoga kesuksesan dunia dan akhirat senantiasa mengiringi. Dan semoga semakin mencintai dan dicintai oleh penduduk dunia maupun penduduk langit.

Untuk kamu, yang terlahir di 24 Juli ‘99

IMG_1455

Advertisements