Cari

Refiola Aureola

menyampaikan yang tak berani untuk disampaikan

INSTAN

Saya keinget rencana pemerintahan mau ngeblokir tumblr atas alasan pornografi. Saya juga keinget waktu pemerintah ngeblokir Netflix atas alasan yang sama. Jujur saya bingung, kalau atas nama pornografi kenapa harus tumblr tempat para penulis lepas kumpul? Atau Netflix yang gak semua konten bisa diakses sama sembarang orang? Bukannya semua media sosial pasti ada yang berkonten pornografi? Contohnya kayak youtube, omegle, chatous, ig, dll. Toh semuanya balik lagi sama pengguna sosmed itu sendiri. Kenapa pemerintah gak langsung aja blokir situs situs penyedia jasa prostitusi online dan semacamnya?

I WANNA PUKE

Rasanya saya pengen ngomong itu depan para pejabat dan orang orang yang bertanggung jawab atas ini. Miris kalau inget ternyata pemerintahan kita sama kayak kebanyakan rakyatnya. Suka yang serba instan. Sampai kapanpun saya akan jadi orang yang selalu percaya kalau pendidikan adalah solusi. Bukan sekedar blokir ini dan blokir itu, tutup ini atau tutup itu tanpa masyarakat kita dibuat ngerti apa bahaya ini, apa bahaya itu, apa manfaat ini dan apa manfaat itu. Sebaliknya, justru masyarakat kita dibuat buta, analoginya kayak kita tuh binatang peliharaan yang terus terusan dikandangin tanpa pernah dikasih tau cara beradaptasi dihutan kayak gimana.

Pejabat negeri dewasa ini terlalu malas buat ngasih pendidikan kesetiap lapisan masyarakat yang jelas-jelas itu tugas. Kita dibuat buta, bukan dibuat mengerti, dan hal itu terus menerus menjalar menjadi hal yang pasti. Dan saya malah berpikir ada semacam kesengajaan yang pada akhirnya mengarah pada pada suatu sistem yang telah direncanakan.

Sekarang lagi viral tentang konten radikalisme dan terorisme dichat telegram. Dan pemerintah ngeblokir situs itu. Ya walaupun saya cuma seorang anak yang baru lulus SMA tapi saya berhak nyampein ini ya. Kenapa harus diblokir? Memangkas aspirasi dan inisiatif rakyat. Seharusnya gerakan oposisi itu jangan dipangkas habis, karena kalau itu hilang alhasil gak akan ada lagi yang kritik pemerintah. Kayak system pemerintahan di UK. Mereka gak ngeberantas oposisi, tapi mereka mengolah gerakan oposisi itu agar menjadi wadah aspirasi dan situlah akhirnya terjadi check and balance. Pemerintah bakal semakin berani dan jadi diktator plus plus otoriter klo rakyat cuma bungkam. Dengan adanya tanggapan negative dari rakyat, seharusnya itu dijadiin tanda bagi pemerintah bahwa masih banyak hal yang perlu diperbaiki di Negara ini, dan seharusnya pemerintahan bersyukur karena masih ada rakyat yang peduli dan mau jadiin Indonesia lebih baik lagi.

Akan lebih baik kalau masyarakat kita dibuat mengerti dan mandiri. Bagaimana cara menyampaikan aspirasi dengan baik dan benar, bagaiman cara berinternet dengan sehat, bagaimana cara melakukan ini dengan baik, dan segala hal yang menjadikan masyarakt kita menjadi manusia yang manusiawi. Yang memakai akal sehat dan hati nurani  ketika bertindak. Memberi penyuluhan, klarifikasi, pembimbingan, dsb memang bukan hal yang mudah dan murah. Tapi gak mustahil juga kalau kita bakal berhasil. Kita emang gak cuma butuh SDM yang besar, tapi juga suntikan finansial yang fantastis. Kalau katanya Negara kita punya hutang yang sampe tujuh turunan gak akan lunas pun, saya berhusnudzhan pasti anggaran untuk pendidikan akan selalu ada. Terlebih Indonesia punya stock segudang orang-orang baik yang mau dengan senang hati membantu melunaskan tujuan dan fungsi berdirinya sebuah Negara. Orang orang yang siap mengorbankan waktu, jasa dan harta untuk kebangkitan bangsa.

Pemerintah hanya tinggal menumbuhkan rasa empati dan husnudzhan pada rakyat. Dengan begitu rakyat pun akan percaya dan merasa terpanggil untuk bahu membahu dengan pemerintah bersama membangun Indonesia yang lebih baik.

ohiya gaes, find me on tumblr yak

http://firdarenfa.tumblr.com

Advertisements

Sebuah Tulisan Untukmu.

“Hidup adalah sebuah pilihan”

Satu dari sekian banyak pelajaran yang saya dapat dalam perjalanan hebat 4 tahun terakhir ini. Memilih untuk menetap dan bertahan atau melangkah dan mengikhlaskan. Saya tak akan dengan memelas meminta atau dengan angkuh meninggalkan, karena bukan itu yang saya harapkan. Tapi saya selalu merasa seolah dihadapkan pada dua jurang, antara duka mencinta dan bahagia terdera. Saya berjalan diantara cacian dan pujian, saya selalu merasa berdiri diatas optimisme tapi bersiap jatuh dirudung pesimisme. Akal meminta pergi, namun perasaan selalu menahan. Keambiguan membuat saya harus memutuskan ini dengan mandiri.

“Hidup adalah belajar”

Dari segudang cerita yang pernah saya bagi denganmu, ada banyak lagi kisah yang kau lewatkan. Saya selalu ingin berbagi, entah apa alasannya tapi saya selalu merasa “kurang” jika kau tak mengetahui. Dan dari banyak hal yang tak kau ketahui, maka ketahuilah bahwa perjalanan ini memberi saya banyak pelajaran.

Terutama, tentang memahami arti kesabaran yang sesungguhnya. Bukan sekedar kesabaran yang menuntut saya hanya diam dan menanti, tapi kesabaran yang terealisasi kala hati mampu menerima, selepas usaha telah saya jalani. Juga tentang meredam kebencian, belajar memaafkan tanpa harus mengerti apa itu dendam. Membiarkan luka luka itu mengering sendiri, meski mungkin hanya pemilik hati paling tabah yang mampu sembuhkan bekasnya. Saya juga belajar tentang pentingnya sebuah pengorbanan tanpa harus memikirkan apa imbalannya, karena itulah hakikat perjuangan. Baik mengorbankan tenaga, waktu, harta, ataupun seseorang yang amat dicintai.

Kamu. Yang menjadi tokoh utama pria dalam kisah “Embun Senja”

Bahagia pernah memilihmu, meski hanya dalam sebuah kisah seorang gadis pemimpi tak tau diri yang mengharapkan pangeran disisi. Benar jika para kurcaci pun mentertawakan ini, tapi saya tak peduli. Saya selalu teringat ketika pertama kali kau seolah menawarkan lembaran kosong dan tak pernah melarang saya untuk menulis. Meski pada akhirnya kau seolah terhenti pada titianmu dan hanya menatap beku. Dan saya pun menemukan dimana letak permasalahannya.

Ya, saya lah masalahnya. Saya yang belum mampu berlapang mengakhiri tulisan tulisan tersebut.

“Tapi, apakah lelaki selalu seperti itu? Apakah tarik dan ulur adalah sebuah strategi?”

But at least, I’ll always choose to stay here. Jangan Tanya “mengapa” karena tak ada jawaban untuk hal itu. Hanya saja andai kau tau bagaimana hitamnya sepi dibalik punggungmu. Sayangnya kau takkan paham sebagaimana saya yang tak pernah mampu menjelaskan. Biarkan semua berjalan sesuai aturan semesta, karena kesabaran hanya akan membuat kita merencanakan sesuatu dengan tidak alamiah. Satu lagi yang saya dapat dari perjalanan ini, bahwa;

“Cinta adalah mengalami”

Ah, perbincangan tentang cinta memang selalu rumit

Ia tak masuk akal, menjadikan yang lemah menjadi kuat, merubah si cupu menjadi pentolan, mengajak yang tertutup agar lebih terbuka. Ia mampu menumbuhkan empati pada hati yang mati, melukis senyum, memberi semangat, menularkan energy positif, dan membangun mimpi. Tapi dia pun mampu membutakan. Menutupi kebenaran. Membuat seseorang putus asa, menangis sepanjang malam, sakit, depresi dan akhirnya mati. Semua kembali pada diri kita masing masing, bagaimana kita dapat mengolah kekuatan magis tersebut.

Kamu. Yang menjadi alasan bagi banyak hal

Perjalanan 4 tahun ini membawa saya bertemu dengan banyak hal baru. Saya selalu ingin mengetahui hal yang sebelumnya tak pernah menarik hati. Dan sejujurnya banyak yang alasannya itu ya karena kamu. Alasan mengapa ini dan itu ada. Alasan mengapa saya menyukai ini, membenci itu. Membeli ini, membuang itu. Mempertahankan ini, melenyapkan itu. Melakukan ini, mengikuti itu, mencari ini, mengabaikan itu. Luar biasa. Kau memang hebat, dan selalu hebat. Menjadikan malang sebagai kota paling berkesan sebagai mana kuningan yang selalu mampu menghadirkan kenangan menyeruak dalam pikiran dan perasaan. Saya amat bersyukur, semua ini benar benar mengajarkan dan menghadapkan saya pada banyak hal baru.

Banyak hal yang saya lewati terkadang melampaui garis yang membatasi dua dimensi, antara kenyataan dan pengharapan. Dari sekedar berpapasan saya menginginkan pertemuan, dari sekedar menyapa saya selalu ingin berbincang, dan yang seharusnya sementara saya malah mengharapkan keabadiaan. Saya seperti kebanyakan manusia pada umumnya yang selalu berharap dalam ruang bernama “cinta”.

Saya telah menyalahi banyak aturan main. Saya tak seharusnya membuka lantas menerima diawal, memendam perasaan, lantas memupuk harapan dan dengan angkuh membuat komitmen pada hati saya sendiri. Ah belakangan ini saya mengerti bahwa komitmen adalah alasan paling tepat untuk berkompensasi. Meski tak dapat dipungkiri, saya menginginkan keabadian kisah ini. Dan lagi lagi saya mendapat pelajaran bahwa;

“Ada saat dimana idealisme akan tergerus habis oleh realita”

Kamu. Thank’s for being you

Terima kasih telah menerima dan memaklumi manusia egois juga tak tau diri ini. Terima kasih karena bersedia untuk tak nyaman. Terima kasih pernah mengizinkan saya mengenalmu dengan baik. Terima kasih untuk waktu, tenaga, nasihat, pelajaran, dan kenangan. Terima kasih telah menjadi teman, guru, kakak, dan menjadi kamu. Terima kasih atas segalanya.

Maaf. Maaf untuk hari hari kemarin. Maaf karena sering menyakiti, menyalahkan, meminta, mengganggu dan membebani. Maaf sering membuatmu malu. Maaf tak bisa memaklumi dan sering menuntut. Maaf untuk kekacauan dan ketidaknyamanan selama ini. Maaf belum bisa menjadi saya yang baik. Maaf atas segalanya.

Bersamaan dengan tulisan ini saya tidak akan mengucapkan salam perpisahan, mengucapkan selamat tinggal ataupun memberi isyarat untuk pergi. Namun saya berharap tembok keegoisan saya yang selama ini menahanmu segera runtuh, segala keinginan melakukan hal yang sia sia bersamamu pun segera sirna, dan segala angan angan masa lalu saya tentang masa depan pun perlahan dapat mengerti akan realita

Saya rasa saya hanya perlu kembali ketempat dimana seharusnya saya bercermin dan berpijak. Bukan semata-mata untuk melepasmu, tapi terlebih dari itu, untuk kebahagiaan saya sendiri. Saya baru menyadari bahwa saya amat merasakan kebahagiaan ketika ada orang orang yang menjadikan saya sebagai kebahagiaan yang mereka miliki. Kemarin kemarin saya terlalu egois akan angan angan dan mencintai hingga saya melupakan orang orang disekitar saya. Saya harus terus berjalan dan menebar kebahagiaan bagi yang lain. Betapa dahsyatnya program bernama cinta. Ia tak pernah diciptakan untuk membelenggu, karena justru ia membebaskan. Ialah satu-satunya substansi yang mampu mentransidensi segala perbedaan. Termasuk perbedaan dimensi. Satu lagi yang saya pelajari, bahwa;

“Kita memang diciptakan untuk melengkapi hidup orang lain”

Kamu. And only you

Kehadiranmu meski selalu menyisakan ruang ambigu, akan selalu menjadi memori terhebat yang saya miliki. Terima kasih pernah mengizinkan saya mencintai, hingga diammu menyadarkan saya bahwa seharusnya saya lebih mencintai diri saya yang memiliki cinta sebesar ini. Dulu saya memulai semua ini dengan segala harapan kehidupan bersamamu, maka sekarang pun saya berharap agar hati mampu dengan lapang menerima bahwa sesungguhnya saya harus melepaskan. Karena baik itu keadaan maupun engkau, tak pernah ada yang meminta saya untuk bertahan.

Terlepas bagaimana nanti takdir membawa, dari hati yang terdalam saya masih ingin tetap mengagumi, mencintai dan menginginkan.

Kamu. And it always been you

Bersama dengan tulisan ini saya ucapkan selamat hari jadi. Selamat menempuh fase baru dalam kehidupan dunia. Selamat menyambut pengalaman dan pelajaran baru. Selamat karena telah melampaui kejadian selama 18 tahun kemarin, dan selamat karena masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri.

Semoga hari harimu senantiasa diberkahi. Semoga menjadi pribadi yang semakin baik. Semoga hati semakin lapang menerima, semakin kuat menghadapi, dan semakin tabah mengikhlaskan. Jagalah dirimu dan keluargamu dengan baik. Semoga kesuksesan dunia dan akhirat senantiasa mengiringi. Dan semoga semakin mencintai dan dicintai oleh penduduk dunia maupun penduduk langit.

Untuk kamu, yang terlahir di 24 Juli ‘99

IMG_1455

Create a free website or blog at WordPress.com.

Atas ↑